Apakah Hidupmu Sudah Indie?

by | Aug 23, 2020 | Cogito

Walau tak bisa memainkan satupun alat musik dan tidak bekerja di industri yang berhubungan dengan musik, hari-hari saya tak pernah lepas dari musik. Setiap hari, saya selalu mendengerkan musik melalui aplikasi Spotify, YouTube hinggga Soundcloud sebagai teman bekerja.

Saya suka sekali mendengarkan musik sejak kecil. Bahkan dulu — saat SMP hingga SMA –, saya rela menunggu lagu kesukaan saya diputar di radio terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Ada juga momen dimana saya beli kaset pita kosong untuk diisi lagu-lagu yang sering diputar di radio sehingga saya bisa memutar lagu-lagu kesukaan kapan saja (ini termasuk pembajakan btw wkwk).

Saya termasuk generasi yang tumbuh di era keemasan Sheila on 7, Base Jam, Caffeine, hingga Wayang. Semuanya bernaung di label besar. Pada masa itu, sangat sulit untuk mencari referensi musik indie. Beberapa band indie yang saya tahu waktu itu paling cuma Pure Saturday sama Es Nanas. Itupun dari sampul kaset. Radio dan tv jarang sekali memutar musik-musik indie.

Era sekarang, musisi atau band berkarir di jalur indie adalah yang sangat lumrah. It’s a new norm. Keberadaan YouTube dan sosial media sudah sedemikian membantu menyebarkan karya musik atau karya-karya kreatif dalam bentuk apapun.

Penikmat musik indie juga semakin banyak. Sakingnya banyaknya, ada yang mengatakan bahwa indie adalah mainstream yang baru. Di media sosial, hal ini seperti menjadi sebuah bahan bullying baru. Apaan sih inda indie. Senja senji tai anjing. Etapi bener lho, ada yang bela-belain bikin lagu hanya untuk nyinyirin orang-orang yang suka senja. Nih lagunya.

Netizen mah gitu. Apa aja bisa jadi bahan nyinyir.

Indie sendiri sebenarnya punya arti yang luas. Bukan cuma di bidang musik saja. Ada film indie, distro indie, Indy Barends, Indi Viki Astuti, Indi Cemudh :)).

Di artikel terdahulu, saya pernah menulis bagaimana musik indie sedikit banyak telah mempengaruhi hidup saya secara personal. Bahwa dari musisi indie saya belajar tentang idealisme. Memang, manusia tak bisa sepenuhnya hidup dengan idealismenya. Manusia hanya bisa hidup di irisan antara idealisme dan realitas, di tengah-tengahnya. Tapi selama rasa untuk mempertahankan idealisme itu masih ada, maka ia bisa dikatakan “hidup” sebagai manusia. Idealisme adalah satu-satunya hal yang bisa kita banggakan saat tak ada hal lain yang bisa kita banggakan.

Idealisme pulalah yang membuat saya sekarang ini memilih jalan hidup sebagai seorang full-fime blogger, sembari pelan-pelan mengumpulkan uang untuk membangun tim dan pada akhirnya membangun sebuah perusahaan (amiiin). Saya memilih jalan ini karna ingin punya kemandirian dan kebebasan waktu, bukan semata soal uang. Ketika saya sedang butuh break, ya saya tinggal break tanpa perlu takut ada yang menegur. Ketika saya ingin pergi berlibur, ya saya tinggal pergi tanpa harus menunggu hari libur ataupun nunggu cuti. Kelak, kalau saya sudah berkeluarga, pilihan hidup ini juga memungkinkan saya untuk menemani keluarga di saat-saat penting tanpa harus meminta ijin kepada atasan. Hal-hal seperti inilah yang saya definisikan sebagai indie. Sebuah kehidupan yang independen, tanpa bergantung (secara materi) pada orang lain serta memiliki kebebasan waktu.

Sekali lagi, penekanannya bukan pada materi, tapi pada kebebasan waktu. Saya tak ingin ketika misalnya kelak saya harus menemani anak atau istri ke acara tertentu saya harus ngurus ijin sana sini. Ya kalo diijinin, kalau enggak?

Pada akhirnya, apapun yang menjadi piliham hidupmu, semoga kamu bahagia menjalaninya. Jika hidupmu sekarang berjalan sesuai idealisme dan mimpimu, selamat. Angkat topi untukmu.

Tags: Cogito

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *