Skip to content

Tidak Perlu Malu Dengan Pekerjaanmu, Teman

Written by

Aliko Sunawang

Kamis, 11 Juni 2020.

Sudah hampir tiga bulan ini saya tidak bekerja di coffee shop tersebab korona. Seperti hari-hari biasanya, saya sering order kopi susu via Go-jek jika tidak sedang kerja di coffee shop.

Kamis itu adalah Kamis biasa. KLB di Solo diperpanjang hingga 17 Juni sehingga saya masih belum bisa bekerja di coffee shop seperti hari-hari normal sebelum korona. Memang banyak coffee shop yang sudah buka. Jika saya perhatikan ketika kebetulan sedang melintas, pengunjungnya pun juga sudah ramai. Tapi saya memutuskan untuk tidak ke coffee shop sampai KLB di Solo benar-benar dicabut.

Sekitar jam 1 siang, saya buka aplikasi Go-jek untuk memesan kopi susu seperti biasanya. Ketika aplikasi memunculkan nama dan foto driver, saya cukup kaget melihat wajah di foto itu. Wajah itu, serta namanya, tidak asing bagi saya. Sekitar 4 tahun lamanya kami sering bertemu di kelas, kantin, atau koridor kampus ketika para mahasiswa sedang menunggu jadwal kelas. Walau beda kelas, kami berada di jurusan yang sama. Pun dengan angkatan. Kami memang tidak terlalu akrab. Tapi intensitas pertemuan yang sangat sering selama 4 tahun tentu sudah lebih dari cukup untuk menyebutnya sebagai seorang teman.

Ya, teman kulian saya itu — yang dulu pernah mengerjakan tugas kuliah bersama-sama, yang pernah memberi saya contekan ketika ujian — kini menjadi seorang driver ojol. Sebuah pekerjaan yang tentu sangat tidak ia inginkan, tapi harus ia ambil atas nama tanggung jawab.

Entah karna malu atau sungkan, teman saya itu rupanya enggan untuk mengantarkan pesanan yang saya pesan. Ia tetap memilih untuk menerima orderan, tapi meminta orang lain untuk mengantarkan kepada saya. Saya cukup kecewa, sekaligus juga paham. Seorang sarjana jadi driver ojol?

Ketika melihat nama dan fotonya di aplikasi, saya sebenarnya sempat excited. Saya ingin bertemu dengannya untuk menanyakan kabarnya, sekaligus teman-teman lain yang mungkin masih menjalin kontak dengannya.

Jika memang dia enggan mengantarkan pesanan saya karna malu perihal pekerjaannya, saya paham itu. Tapi, kenapa harus malu, sih? Toh itu pekerjaan halal. Dan mungkin saja itu hanya bagian dari roda kehidupan. Beberapa tahun atau bahkan bulan ke depan, belum tentu dia tetap jadi driver ojol, kan?. Kehidupan mungkin akan membawanya pada pekerjaan atau posisi yang lebih baik.

Lagipula, posisi saya sekarang sepertinya juga tak bisa dijadikan alasan untuk membuatnya malu. Saya masih belum jadi siapa-siapa. Saya masih menjadi seorang laki-laki yang sedang memperjuangkan tempatnya, seorang laki-laki yang sedang berjalan menuju tujuan hidupnya.

Saya jadi teringat sebuah memori sewaktu masih kuliah dulu.

Dulu, saya pernah dimintai tolong seorang teman untuk mengantarnya daftar CPNS di Semarang. Waktu itu kami masih mahasiswa yang tentu saja belum punya ijasah S1. Ketika meminta saya untuk menemaninya, kira-kira seperti ini yang teman saya katakan.

“Ko, besok temenin ke Semarang, yuk. Aku mau nganterin tetanggaku daftar daftar CPNS”.

Kami berangkat ke Semarang berdua, naik motor. Tapi teman saya bilang bahwa ia sudah janjian dengan tetangganya itu di lokasi pendaftaran. Selama di lokasi, saya tak pernah jauh-jauh dari teman saya itu. Dan selama itu pulalah, ia tak pernah bertemu dengan tetangga yang katanya diantarkan itu. Beberapa bulan kemudian, barulah saya sadar bahwa “mengantar tetangga” tadi hanyalah semacam alibi. Teman saya tadi mendaftar CPNS untuk dirinya sendiri, dengan ijasah SMA. Mungkin karna malu berkata jujur, ia membuat alibi “mengantar tetangga” untuk meminta saya menemaninya. Seorang mahasiswa melamar CPNS dengan ijasah SMA?

Memang ada yang salah?

Saya pikir tidak. Tidak ada masalah dengan pekerjaan apapun asal itu halal. Belum tentu pekerjaan orang lain yang kelihatannya lebih bergengsi itu lebih baik dari pekerjaan kita sekarang. Akan lebih baik dan keren lagi jika pekerjaan kita sekarang bisa kita jadikan alat untuk membawa kita ke posisi yang lebih baik.

Pekerjaan saya pun sebenarnya tidak bergengsi sama sekali: Blogger. Jika saya bertamu ke rumah seorang wanita dan menjawab “blogger” ketika ditanya oleh orang tuanya perihal pekerjaan, orang tuanya tadi mungkin akan balik tanya “blogger itu kerjanya apa? Penghasilannya gimana?” ke anaknya. Suram, kan?

Tapi saya sudah punya rencana dengan pekerjaan saya ini. Dan saya juga bertanggung jawab penuh atas pilihan yang sudah saya ambil ini.

Sebelum bisa sepenuhnya hidup dari blog-blog yang saya kelola sekarang (saya punya tiga blog komersial), saya pun sudah berkali-kali gagal dengan proyek blog. Saya sudah aktif ngeblog sejak sekitar 2010 tapi baru benar-benar bisa hidup dari blog sekitar 2 tahun ke belakang. Saya bahkan pernah bikin proyek blog bersama beberapa teman. Dua kali malah. Tapi juga gagal.

Saya percaya satu hal. Bahwa tidak ada yang sia-sia jika apa yang kita lakukan itu tidak merugikan orang lain. Jika pun apa yang kita usahakan saat ini menemui kegagalan, kita bisa belajar darinya untuk memperbaiki di usaha kita lakukan berikutnya. Terdengar sangat klise?. Ya memang begitulah kenyatannya. Bukankah pengalaman hidup itu pelajaran terbaik?

Menjadi seorang driver ojol mungkin cuma fase yang harus dilewati untuk membawa kita ke posisi yang lebih baik. Semoga.

Previous article

Lasem dan Sebuah Khayalan Tentang Masa Depan

Next article

5 cm. Yang Kedua

Join the discussion

  1. Hahah aku juga sering mas, ketemu temenku dan memilih menjauh karena malu gak kerja-kerja dan kuliah terus 😂. Orang malu emang macem-macem ya, padahal ya yang dilakukan itu sah-sah saja dan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *