Skip to content

I Have Been Here

When I first wrote this draft (May 25, 2019), I was sitting in a theater room, waiting for Avengers: Endgame to be played. It was the second time I watch the movie within two days. I am a big fan of MCU movies. I’ve been following every single MCU movie. For me, Endgame is a perfect gift after 10 years of waiting. But, I am not going to talk about the movie here.

Before I arrived at the theater, when I was standing in front of the passenger lift, I suddenly remember that I once wrote a medium-term goal of life. I wrote on a tiny personal notebook that within two years right from that moment, I should have been able to watch MCU movies more than one time without thinking twice. What I mean “think twice” here is about the financial reasons.

I know that the price of movie ticket is not too expensive for the vast majority of urban society. But trust me. Not everyone can afford it. I once in the state where a movie ticket is a luxury thing. I even had to think a couple of times to go to a coffee shop for just a cup of coffee.

I am not going to say that I already have a large amount of income by now. At least I have accomplished one of the goals I wrote about a year ago and I think it’s a good thing.

Gunung Sumbing, September 2018

15 Comments

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” -Mark Twain.

Beberapa waktu belakangan ini saya sering merenungkan nasihat penulis asal Amerika itu. Mungkin benar bahwa suatu saat nanti kita akan lebih menyesali apa-apa yang tidak kita lakukan daripada sesuatu yang telah kita lakukan. Ada begitu banyak contoh orang-orang yang sudah kepala 4 ke atas yang menyesali kehidupan yang mereka jalani tersebab tidak memperjuangkan apa yang menjadi impian mereka di masa muda dulu. Mereka hidup tapi tidak dengan hidupnya. Di masa depan, saya sangat tidak ingin memiliki jenis kehidupan yang seperti itu. Hidup yang terjebak dalam sistem industri yang kalau kata Bondan Prakoso & Fade2Black di salah satu lagunya, SOS, memiliki pola: Lahir, sekolah, bekerja, mati.

Mendaki gunung adalah salah satu cara yang saya tempuh untuk menhindari penyesalan seperti apa yang dikatakan Mark Twain. Sejujurnya, mendaki gunung adalah bagian dari jalan hidup yang saya rencanakan. Sebuah grand design kehidupan yang saat ini cuma saya dan Tuhan yang tahu.

Lempuyangan, 11 September 2018 pukul 07.29 WIB

Pagi itu saya sedang menunggu kereta Prameks jurusan Jogja-Solo. Saya hendak pulang ke Solo setelah menumpang tidur di kos teman malam sebelumnya. Senin, 10 September 2018 saya baru saja turun dari Gunung Sumbing.

Perjalanan ke Gunung Sumbing adalah sebuah perjalanan yang tak terduga sekaligus tak terencana. Awalnya, kami berencana mendaki Gunung Argopuro di Jawa Timur, namun jalur pendakian sedang ditutup karna rawan kebakaran. Puncak musim kemarau begini memang rawan terjadi kebakaran di gunung.

Jika Gunung Slamet adalah atapnya Jawa Tengah, maka Gunung Sumbing adalah balkonnya. Gunung ini adalah gunung tertinggi nomor dua di Jawa Tengah.

Orang-orang yang suka mendaki gunung itu mungkin adalah orang-orang paling naif sedunia. Sudah tahu bakal capek tapi tetap dilakukan. Tapi, apa bedanya dengan masyarakat urban Jakarta yang sering ngeluh macet tapi tetap naik kendaraan pribadi? Atau orang-orang yang bilang “sudah ganti presiden tapi hidup gini-gini aja” padahal mereka memang tak pernah berbuat lebih untuk hidupnya?

PXS_0158
Hidup ini memang kompleks karna setiap kepala punya pemikiran yang tak sama. Tujuan dan cara orang menjalani kehidupan tak akan pernah sama. Jadi, berhentilah menjadi komentator atas hidup orang lain.

Pendakian Gunung Sumbing kemaren adalah tentang angin dan track kejam dari base camp ke Pos 1 dan Pos 3 ke Pos 4. Kedua track itu adalah track yang paling membuat saya banyak ber-istighfar. Kami butuh waktu sembilan jam dari base camp Butuh, Kaliangkrik ke Pos 4, tempat kami nge-camp.

Walau lelah dan pegal, tak ada pendakian yang tak menyenangkan. Begitupun dengan pendakian ke Gunung Sumbing. Juga banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dipetik. Waktu perjalanan naik, kami berpapasan dengan banyak penduduk lokal — terutama ibu-ibu — yang menggendong kayu bakar yang bobotnya bisa mencapai 50 kg. Juga hasil-hasil ladang. Dengan track yang sedemikian menyiksa bagi saya sebagai pendaki, apa yang dilakukan mereka adalah sebuah pertunjukan tentang perjuangan hidup dan menjadi pesan tak terucap untuk “selalu ada alasan untuk bersyukur”.

Saya sempat bertanya kepada salah satu ibu yang membawa kayu bakar.

Pados saking pundi, buk?” Nyari dimana, buk?.
Nginggil Pos 2 mriku, mas” atas pos dua situ, mas.

Untuk informasi, kami membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam sewaktu perjalanan naik dari basecamp ke Pos 2. Kondisi track dari base camp Butuh ke Pos 2 ini naik terus. Tanpa track datar sama sekali.

PXS_0202

 

Angin adalah musuh terbesar saat mendaki Gunung Sumbing. Kami benar-benar dibuat kewalahan oleh angin yang bertiup cukup sepanjang perjalanan naik-turun. Mendirikan tenda menjadi sesuatu yang sangat sulit sekali dilakukan. Angin juga turut membawa debu-debu di Pos 4 masuk ke tenda-tenda kami. Saking kencangnya angin dan banyaknya debu yang masuk ke tenda, kami tak bisa memasak nasi untuk mengisi energi sebagai bekal turun. Kami baru bisa memasak nasi di pos 2, setelah melakukan perjalanan sekitar 3,5 jam. Tadinya, kami mau sok keren dengan makan di base campa saja. Tapi fisik memang tak bisa bohong. Kaki kami sudah gemetar tak beraturan.

Puncak tak pernah menjadi obsesi utama saya ketika mendaki gunung walaupun saya akan tetap berusaha untuk mencapainya. Alhamdulilah, untuk kesekian kalinya, pagi itu saya bisa berdiri di tanahNya yang tinggi, Puncak Sejati, Gunung Sumbing.

Gunung Sumbing. Terima kasih untuk anginmu, untuk track berbatumu, untuk track tanahmu, untuk puncakmu, untuk sunrisemu, untuk langitmu, untuk mataharimu, untuk debumu, untuk rumputmu, untuk tanjakanmu, untuk sungai-sungaimu yang kering serta untuk segala pelajaran yang telah kau berikan tanpa pernah kau ucapkan. Juga terima kasih untuk Rifqy, Eko dan Mas Rendra atas pendakian yang tak biasa ini.

Diketik di Stasiun Lempuyangan, Jogja sambil menunggu kereta.

Belajar Banyak Di Gunung Merbabu

8 Comments

Pada jam yang sama ketika menulis artikel ini, seminggu yang lalu saya baru saja tiba di base camp pendakian Gunung Merbabu. Itu adalah pendakian ke-4 saya ke Gunung Merbabu. Tapi entah kenapa rasanya seperti pertama kali. Entah karna jeda yang terlalu lama atau teman mendaki yang baru. Mungkin juga karna dua-duanya.

Selama ini, saya tak pernah sebahagia minggu lalu saat mendaki. Jujur dari hati yang paling dalam, pendakian minggu lalu adalah pendakian paling membahahiakan yang pernah saya lakukan. Saya mendaki bersama 7 orang teman yang sama sekali baru. Dari mereka bertujuh, hanya dua orang yang secara fisik saya pernah bertemu. Itupun baru sekali di sebuah acara buka bersama Ramadhan lalu. Selebihnya, komunikasi kami hanya melalui sosial media yang frekuensinya sebenarnya juga tidak terlalu intens.

Dari tujuh teman ini, 4 orang diantaranya bahkan belum pernah saya kenal sama sekali. Saya baru tahu nama-nama mereka setelah Rifqy memasukkan saya ke grup WhatsApp. Hanya nama yang saya ketahui karna beberapa dari mereka tidak memasang profil WhatsApp, kecuali Mbak Igna.

Saya sebenarnya hampir gagal mengikuti pendakian kemaren karna nyaris kesiangan. Kalau bukan karna dibangunkan Rifqy, mungkin saya baru akan bangun jam 8, sedangkan kami sudah janjian untuk ketemuan di base camp sekitar jam 8 juga.

Kenapa bisa kesiangan? Karna malam harinya diajakin teman main PES. Saya tak bisa menolak ajakan teman untuk main PES bila mereka sudah datang langsung ke kos. Lemah, ya?

Sebagaimana biasa, saya selalu menjadikan kegiatan mendaki sebagai media belajar. Belajar untuk menikmati proses, belajar untuk sabar, belajar untuk introspeksi dan mawas diri, belajar untuk selalu mengingat Sang Maha Kuasa dalam kondisi apapun, bahkan ketika sedang lelah-lelahnya.

Dan hari itu, saya belajar lebih banyak dari biasanya. Dari Rifqy, saya belajar bagaimana caranya memotret Milky Way. Juga menggunakan white balance yang benar untuk memotret silhouette saat sunrise. Dari teman-teman yang lain, saya belajar untuk menjadi diri saya sendiri. Meski baru pertama kali bertemu, saya merasa tak perlu untuk terlalu jaga image. Toh saya bukan datang untuk taaruf.

Dan memang begitulah adanya. Selama pendakian, kadang saya hanya diam. Kadang bertingkah alay. Tak jauh beda dengan apa yang saya lakukan sehari-hari. Entah apa yang mereka pikirkan tentang saya :))

Satu hal yang selalu saya pikirkan ketika mendaki gunung adalah betapa manusia itu amatlah kecil dan lemah. Ada ratusan atau bahkan ribuan gunung di planet Bumi. Sedangkan untuk mendaki satu gunung saja, kita sudah harus mengeluarkan semua energi yang kita punya. Inilah yang kemudian membuat saya heran kepada orang-orang yang suka menunjukkan kehebatan dirinya dengan maksud sombong.

Di hadapan semesta, manusia itu hanyalaj biji sawi di Samudra Hindia. Alias ora ketok blas (ga kelihatan sama sekali). Tidak ada apa-apanya.

Saya tak banyak berekspektasi dalam pendakian kali ini. Sampai puncak ya alhamdulilah, tidak sampai puncak ya tidak apa-apa. Tujuan pribadi saya dalam pendakian ini sebenarnya cuma satu yaitu untuk belajar memotret Milky Way. Itulah mengapa saya meminta tolong Rifqy untuk membawa tripod yang lebih portable karna punya saya cukup susah dibawa-bawa untuk keperluan outdoor (maklum, barang murah)

Untuk pendakian kemaren sendiri kami bisa sampai puncak. Kami hanya mengunjungi Puncak Trianggulasi karna ketika kami sampai ke puncak, hari sudah mulai beranjak siang. Lama tak ke sana, Puncak Trianggulasi sekarang sudah berubah. Kini sudah ada gapura serta pagar pembatas.

Tapi tetap ada yang tak berubah. Yaitu nafas yang selalu terengah untuk kesana. Serta hati manusia yang selalu mengagumi keindahan semesta dari tanah tinggiNya.

Terima kasih Merbabu, sekali lagi. Juga kalian yang menjadi teman belajar sekaligus bermain. Rifqy, Mbak Igna, Sukma, Dian, Eko, Lidia dan Jun.

PS:

Foto-foto pendakian kemaren sudah saya taruh di sini.

Kenaifan di Tahun Baru

Manusia sudah sering menjadi makhluk naif saat tahun baru, juga liburan panjang secara umum. Bahwa kita semua sebenarnya tahu kalau momen tahun baru dan juga liburan panjang adalah momen dimana tempat-tempat wisata akan menjadi sangat ramai. Naif karna meski sudah tahu dengan kondisi semacam itu, kita tetap nekat untuk berwisata.

Sebagai orang yang sudah berumur lebih dari setengah abad, tentu saya tahu betul alasan-alasan yang membuat banyak orang tetap berangkat ke sebuah tempat wisata meski dengan kondisi seperti yang saya ceritakan di atas.

Jujur dari hati yang terdalam, saya sebenarnya paling benci liburan saat hari libur, termasuk weekend. Di sisi lain, keadaan sering membuat saya tak berdaya dan harus sering pergi liburan saat weekend. Beberapa teman saya mencari nafkah dengan atauran jam kantor yang membuat saya tak bisa seenak udel mengajak mereka liburan. Sementara mau ngajak keluarga saya belum punya.

Kebetulan sekali, momen tahun baru 2018 ini saya lewatkan dengan pergi liburan bersama para sahabat. Seumur-umur ini adalah pertama kalinya saya menikmati momen tahun baru dengan niat. Well, sebenarnya enggak niat juga, sih.

Jadi begini, saya dan teman-teman berangkat liburan pada momen tahun baru karna kebetulan memang hanya di momen inilah kita bisa pergi bersama-sama. Beberapa teman punya ikatan kerja. Mereka bekerja Senin s/d Sabtu (ada yg cuma sampai Jumat) sehingga hanya bisa pergi minimal Sabtu sore. Dengan keadaan seperti ini, mustahil untuk pergi liburan ke tempat yang agak jauh. Kalau ingin pergi bareng, kami biasanya paling mentok ngadem di Tawangmangu atau Ngargoyoso.

Jadi, sebenarnya niat kami (setidaknya saya) pergi liburan di malam tahun baru kemaren bukan untuk merayakan tahun baru, namun karna memang di momen inilah kami bisa pergi bersama karna kebetulan tahun baru kali ini jatuh pada hari Senin.

Kebetulan kami pergi ke Pantai Sedahan di Gujungkidul. Pantai Sedahan sejatinya bukanlah pantai maimstream di Gunungkidul. Lokasilnya cukup remote dan diperlukan trekking sekitar satu jam. Medannya pun bisa dibilang cukup berat.

Tapi, di malam tahun baru, pantai yang tadinya anti mainstream pun bisa menjadi sangat (SANGAT) mainstream. Kalau kamu ingin tahu seperti apa suasana di Pantai Sedahan pas tahun baru kemaren, lihat saja foto yang saya ambil di bawah ini.

DSC_0447

Itu belum semua tenda. Masih ada beberapa pengunjung yang terpaksa mendirikan tenda di sebuah tanah lapang dekat area pantai karna sudah tak kebagian tempat untuk mendirikan tenda.

Lantas apakah dengan kondisi yang sedemikian ramai saya dan teman-teman masih bisa menikmati liburan?

Sangat. Kami sangat menikmati liburan kemarin. Sore hari kami main ombak seperti Peter Parker di “Spider-Man: Homecoming” yang begitu keranjingan dengan misi baru selanjutnya dari tim Avengers. Malam hari kami main kartu sampai tengah malam. Sebelum pulang keesokan harinya kami juga masih sempat main voli. Itu belum termasuk ngobrol-ngobrol tanpa topik di bawah pohon pandan sambil menikmati kopi dengan sebuah teknik khusus yang disebut Akbar dengan teknik “tipis-tipis”.

Kembali soal naif

Sepulang dari pantai saya kembali menjadi saksi kenaifan manusia di momen libur panjang. Di sekitar jalan menuju kawasan wisata Waduk Gajah Mungkur (kebetulan kami pulang lewat Wonogiri), antrian kendaraan panjangnya bukan main. Dari pintu masuk wisata Waduk Gajah Mungkur, antrian baru berakhir beberapa ratus meter menjelang kota (seriously).

Well, sekali lagi, manusia memang sering menjadi makhluk yang sangat naif saat musim liburan panjang tiba. Tapi perlu diketahui pula bahwa naif semacam ini bukanlah kriminal.