Skip to content

Lasem dan Sebuah Khayalan Tentang Masa Depan

4 Comments

Semarang, 11 Oktober 2019.

Malam itu — sekitar jam setengah 7 malam — saya, Jo dan Mas Halim sedang duduk di sebuah meja di depan booth tahu gimbal di Semawis. Jo, sang tuan rumah, mengajak saya dan Mas Halim ke sini untuk mencari makan. Sewamis sendiri merupakan sebuah tempat makan bertema street food yang berada Kawasan Pecinan. Sekitar satu atau dua kilo meter dari Kota Lama. Saya dan Mas Halim mampir ke Semarang untuk transit, menunggu jadwal kereta Joglosemarkerto yang baru akan berangkat jam 21.58. Kami baru saja melakukan perjalanan dari Lasem, Rembang.

Secara random, obrolan kami bertiga tiba-tiba sampai kepada sosok Opa. Beliau adalah seorang warga asli Lasem. Saat awal-awal Lasem mulai dikenal oleh para pejalan dan fotografer, banyak pemandu yang membawa tamu ke rumah Opa. Menurut cerita Mas Halim dan Jo, Opa adalah sosok yang cukup welcome kepada para turis yang ingin mencari tahu sejarah atau apapun yang berkaitan dengan Lasem, meskipun beliau – tentu saja – tidak mengenal turis yang bersangkutan. Masih menurut kedua teman saya itu, ada setumpuk majalah kuno di salah satu meja di rumah Opa. Katanya, saat kita membuka halaman salah satu majalah – secara random – halaman itu adalah perwujudan diri kita di masa depan. Tentu saja saya tak percaya. Ya kali masa depan ditentukan oleh halaman majalah.

Ketika menceritakan tentang sosok Opa dan suasana rumahnya, Mas Halim juga bilang bahwa Lasem itu unik. Menurutnya, hanya orang-orang yang benar-benar “terpanggil” saja yang bisa datang ke sana. Maksudnya, hanya mereka yang benar-benar punya niat yang bisa datang ke Lasem. “kayak ibadah haji saja”. Timpal saya.

Mungkin Mas Halim memang ada benarnya. Sebelum akhirnya melakukan perjalanan dengan dia, saya sudah ada niat untuk melakukan perjalanan ke Lasem seorang diri. Tanpa teman, tanpa pemandu. Beberapa hari sebelum berangkat, Mas Halim tiba-tiba menghubungi melalui WhatsApp bahwa ia ingin gabung. Dia mendapat kabar bahwa saya akan Lasem dari si Jo ketika mereka berdua bertemu di Semarang beberapa hari sebelum Mas Halim menghubungi saya. Pada akhirnya, justru Mas Halim lah yang repot mengurus persiapan perjalanan. Dia yang mencari penginapan sekaligus persewaan sepeda di Lasem. Juga menentukan destinasi-destinasi yang akan kami kunjungi. Belakangan, barulah saya sadar bahwa melakukan perjalanan ke Lasem tanpa pemandu akan menjadi sangat merepotkan karna Lasem bukanlah destinasi wisata sembarangan. Sebelum melakukan perjalanan dengan saya, Mas Halim sudah dua kali mengunjungi Lasem. Kesimpulannya, Mas Halim adalah teman perjalanan sekaligus pemandu :))

Lasem sendiri secara teknis merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jadi bayangkan saja jika saya harus menjelajahi satu kecamatan tanpa tahu dimana saja spot-spot yang menarik. Lasem berada di Jalur Pantura yang menghubungkan Rembang-Tuban.

Lasem banyak dikenal orang sebagai Kawasan Pecinan. Banyak warga Tionghoa yang hidup di Lasem sejak jaman kolonial Belanda hingga sekarang. Tempat saya menginap sendiri (Oemah Ijo dan Roemah Oei) dimiliki oleh keturunan Tionghoa (dari namanya saja sudah kelihatan). Beberapa rumah batik juga dimiliki oleh keturunan Tionghoa. Di sisi lain, orang-orang juga mengenal Lasem sebagai kawasan pondok pesantren. Di Lasem, ada sebuah pondok pesantren yag lokasinya berada di Kompleks Pecinan. Beberapa bangunannya bahkan mengadopsi arsitektur China yang khas dengan warna merahnya itu. Ketika mengunjungi Pantai Caruban (salah satu pantai di Lasem), saya juga melewati sebuah pondok pesantren.

Jadi sebenarnya, Lasem itu bukan Kawasan Pecinan, juga bukan Kawasan Pesantren. Lasem adalah dimana orang-orang dari berbagai etnis hidup bersama dan berdampingan. Saling melengkapi dan berbagi peran. Sama halnya dengan tempat-tempat lain di Indonesia.

Ketika sedang ngopi di sebuah warung kopi (warung, bukan kafe) pada Jum’at pagi, saya menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang dari berbagai etnis hidup membaur menjadi satu di Lasem. Seorang Tionghoa paruh baya sedang menikmati secangkir kopi lelet sambil membahas politik. Lalu tiba-tiba datang seorang lelaki usia 50-an dengan logat Jabodetabek yang sepertinya baru saja mengantar anaknya sekolah. Tanpa casciscus dulu sebagai awalan, si lelaki tiba-tiba ngomongin salah satu tetangganya. Saya yang tak minat dengan topik semacam ini langsung mengalihkan focus ke buntelan ketan di depan mata, sembari nyruput kopis susu yang ampasnya sudah mulai mengendap.

Saya sendiri ke Lasem karna “teracuni” oleh jepretan-jepretan para fotografer yang pernah hunting foto di Lasem. Foto-foto human interest serta bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda merupakan objek utama di Lasem. Di Lasem, kita bisa memotret aktivitas para pembatik di rumah batik, petani garam di tambak garam, ataupun warga lokal yang kebetulan lewat di sebuah gang di Desa Karangturi. Desa Karangturi sendiri adalah sebuah desa yang menjadi salah satu destinasi utama di Lasem. Di desa inilah kita bisa menyaksikan bangunan-bangunan rumah tua yang sudah ada sejak jaman kolonial. Dengan pintu-pintu vintage-nya yang ikonik.

Di hari kedua kunjungan ke Lasem, Mas Halim mengajak saya ke sebuah bangunan tua bekas stasiun. Ya, Lasem dulu merupakan jalur kereta api. Mas Halim sebenarnya sudah menjelaskan panjang-lebar soal ini kepada saya, tapi saya tak begitu paham. Yang saya tahu, tempat ini kini sudah menjadi tempat parkir truk-truk besar. Dan kebetulan tak jauh dari tempat ini ada sebuah pabrik (pabrik apa ya saya kok lupa). Pabrik ini memanfaatkan area bekas stasiun untuk memarkir truk-truk kontainer pengangkut barang. Ketika kami ke sana, beberapa supir (atau mungkin warga lokal) sedang asik bermain judi.

Mas Halim juga mengajak saya mengunjungi sebuah rumah batik milik seorang pengusaha batik bernama Pak Santoso. Beliau adalah pemilik batik Pusaka Beruang. Sebenarnya, tujuan kami bukanlah rumah batiknya, melainkan pohon trembesi (?). Kami awalnya tak berniat untuk masuk rumah batik milik Pak Santoso ini.

Supaya tidak penasaran, lihatlah foto di bawah ini.

Foto di atas adalah pohon trembesi besar yang kebetulan lokasinya berada persis di depan rumah batik yang memproduksi batik Pusaka Beruang milik Pak Santoso. Saat kami sedang berteduh sembari foto-foto di bawah pohon ini, sang tuan rumah tiba-tiba keluar bersama rombongan tamu dari Kompas. Salah satu orang Kompas yang menjadi tamu Pak Santoso — Namanya Silvi — adalah teman Mas Halim. Jadilah Mas Halim punya perantara untuk bicara dengan Pak Santoso. Endingnya, kami (atau lebih tepatnya Mas Halim wkwk), meminta ijin untuk masuk ke rumah menyaksikan para pengrajin batik. Tentu saja saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memotret aktivitas para pembatik.

Sragen, 19 Oktober 2019

Saat menulis postingan ini, saya sedang duduk di beranda rumah. Hujan baru saja turun. Ini adalah hujan pertama setelah kemarau yang panjang tahun ini. Aroma tanah basah begitu menyegarkan di indra cium, merasuk hingga ke dalam dada. Seandainya aroma tanah basah ini bisa dimasukkan ke dalam botol, saya akan menjadikannya parfum dan mengirimnya ke rumahmu. Ya, saya sedang mengutip lirik lagu Adhitia Sofyan. Ape lo!

Sudah seminggu sejak kunjungan saya ke Lasem. Bayangan suasananya masih sangat terasa. Lasem memang panas, tapi saya tak kapok datang ke sana. Ketika sudah tua dan punyak anak-anak nanti, Lasem mungkin akan menjadi salah satu tempat dimana saya akan mengajak mereka menikmati sunset di tambak garam atau sekedar makan Lontong Tuyuhan di desa Tuyuhan sembari berkata “waktu muda dulu ayah pernah sepedaan keliling Lasem, nak. Waktu itu ayah harus mampir Indomaret dulu untuk beli singlet. Panas”

PS

Beberapa hasil hunting foto di Lasem kemaren sudah saya upload ke Unsplash dan Pexels. Silakan dipakai kalau memang butuh untuk keperluan apapun.

Sore itu, di Kota Lama, Semarang

Ketika berkunjung ke Semarang, saya selalu teringat kenangan kecil di tahun 2008. Selepas lulus SMA di tahun itu – sebelum mendaftar kuliah –, saya sempat ingin ikut teman bekerja di kota ini. Tahun itu adalah pertama kalinya saya berkunjung ke kota Semarang, seorang diri. Seingat saya, bus jurusan Solo-Semarang masih lewat sekitaran Tugu Muda karna teman meminta saya untuk turun di Tugu Muda sebelum ia menjemput dengan sepeda motor tuanya menuju tempat ia tinggal, yakni sebuah kontrakan di pinggiran rel kereta api. Teman saya tinggal di kontrakan ini bersama 3 orang temannya. Kondisi kontrakan ini sangat sederhana. Saya masih ingat betul, ada satu hari dimana hujan turun cukup deras ketika saya menumpang di kontrakan ini. Air menetes di beberapa titik kontrakan akibat genteng yang bocor. Singkatnya, saya akhirnya memutuskan untuk tidak ikut kerja dengan teman saya itu. Setelah 4 atau 5 hari, saya memutuskan untuk pamit pulang lalu mendaftar kuliah.

Hanya itu satu-satunya kenangan saya tentang Semarang. Secara teknis, sebenarnya saya cukup sering ke Semarang karna ibu saya berasal dari Semarang (kabupaten, bukan kota). Tapi, karna kampung ibu saya lebih dekat dengan kota Salatiga, saya lebih sering menyebut “ke Salatiga” alih-alih “ke Semarang” ketika ditanya orang.

Kota Lama, 14 Agustus 2019

Sekitar jam 2 siang, Trans Semarang yang saya tumpangi sampai di kawasan Kota Lama, menurunkan saya di sebuah halte tak jauh dari Gereja Blendug. Siang itu Semarang panasnya bukan main. Saya buru-buru mencari warung untuk mencari minuman dingin. Rupanya, beberapa puluh meter dari Gereja Blendug ada sebuah mini market, yang sekaligus menjadi satu-satunya mini market di kawasan Kota Lama. Setelah cukup membasahi tenggorokan, saya segera beranjak menuju Achterhuis, tempat saya akan menginap. Teman saya menyarankan saya untuk menginap di Achterhuis karna lokasinya yang berada di kawasan Kota Lama sehingga saya bisa menghemat biaya transportasi. Saya cukup berjalan kaki jika ingin menuju Gereja Blendug atau tempat-tempat lain di kawasan Kota Lama. Tak perlu order ojol.

Suasana sore di sekitar Gereja Blendug

Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Kota Lama. Saya sempat kebingungan mencari lokasi Achterhuis meskipun sudah membaca peta di Google Maps. Saya bahkan hampir nyasar ke Stasiun Tawang sebelumnya akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada salah satu penduduk lokal. Rupanya, Achterhuis tidak cukup dikenal oleh warga lokal. Entah saya yang salah tanya orang atau memang namanya yang cukup asing sehingga tidak mudah diingat oleh warga lokal. Saya berhasil menemukan lokasi Achterhuis berkat bantuan dari seorang pemuda (bukan warga lokal) yang kebetulan saya temui. Si pemuda yang katanya cukup sering ke kawasan Kota Lama mengantar saya mencari lokasi Achterhuis dengan sepeda motor bebek tua tipe Astrea Prima (Honda). Alhamdulilah, orang baik ada dimana-mana.

Jam tiga sore lebih sedikit. Jo – teman yang akan menemani saya berkeliling Kota Lama sore itu – mengabari via WhatsApp bahwa dia sudah tiba di taman depan Gereja Blendug. Selepas asar, saya langsung menyusul dia di taman. Sore itu, Jo pulang kerja lebih awal sehingga bisa menemani saya jalan-jalan mengelilingi Kota Lama. Lagi pula, saya memang butuh seorang pemdandu. Si Jo (nama lengkapnya adalah Johanes Anggoro) rupanya cukup menguasai area Kota Lama. Beberapa kali ia menjelaskan tentang Kota Lama, termasuk kenapa kota ini sempat ditinggalkan. Jo juga menjelaskan bahwa dulu di kawasan Kota Lama ada sebuah pelabuhan. Jejak pelabuhan itu ditandai dengan sebuah menara yang bisa kita lihat dari pinggiran sungai di bagian barat kawasan Kota Lama.

Sepeda hias untuk berfoto. Bayar seikhlasnya

Jo mengajak saya menyusuri gang-gang di Kota Lama. Beberapa tembok di gang-gang yang kami lewati masih terlihat asli, tua termakan waktu. Pun dengan pintu-pintu dan jendela. Banyak yang sudah kusam dan berjamur. Kesan vintage benar-benar terasa ketika menyusuri gang-gang di kawasan Kota Lama. Menurut kabar yang saya dengar, kawasan Kota Lama sedang berada di radar UNESCO untuk dijadikan salah satu situs warisan dunia.

Pada jaman kolonial Belanda dulu, Kota Lama merupakan pusat ekonomi di Semarang. Di kawasan ini masih berdiri dengan kokoh pabrik rokok Praoe Lajar yang sampai kini masih aktif beroperasi. Di beberapa gedung juga masih tersemat atribut-atribut perusahan yang dulu pernah menggunakan mereka sebagai kantor operasional. Sebagian besar memiliki nama beraroma Belanda yang cukup sulit untuk dibaca, apalagi diingat.

Anak-anak bermain di depan sebuah keda kopi

Selain bangunan-bangunan tua, kedai kopi merupakan hal lain yang banyak ditemui di kawasan Kota Lama. Keda-kedai kopi ini – juga tempat bisnis lain – memanfaatkan bangunan-bangunan tua yang sudah tidak dipergunakan. Guest host tempat saya menginap sendiri juga memiliki kedai kopi. Filosofi Kopi — brand kopi yang popular lewat filmnya itu – juga punya kedai di Kota Lama. Lokasinya hanya beberapa puluh meter saja dari Achteruis.

Tujuan utama saya ke Kota Lama hari itu sebenarnya adalah untuk memotret Gerega Blendug. Saya ingin memotret gereja yang menjadi landmark utama Kota Lama ini dengan menambahkan foregound berupa kilatan lampu-lampu kendaraan dalam mode long exposure. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Rupanya, lampu-lampu trotoar di kawasan Kota Lama ini memiliki cahaya putih yang cukup terang, membuat bagian bawah terlihat terlalu terang jika saya mengatur shutter speed kamera diatas satu detik. Mungkin akan membantu jika saya membawa filter GND. Sayangnya, saya tak membawa filter ini dan memang belum punya. Tak mengapa, mungkin ini adalah ini petunjuk dari semesta bahwa saya harus ke Kota Lama lagi di lain waktu.

Foto yang gagal

Meskipun tidak berhasil mendapatkan gambar Gerega Blendug sesuai dengan yang saya rencanakan di awal, saya tak terlalu kecewa. Romantisme sore ala senja-kopi serta suasana tempo doeloe yang diberikan oleh Kota Lama cukup membuat saya bahagia. Jika diajak ke sini lagi – jika semuanya memungkinkan – tentu saya tak akan pikir dua kali untuk mengiyakan.

How Indie Music Influenced My Life

I am the sort of person who can’t live without music. Every day, I open Spotify on my laptop to accompany me getting the job done. Spotify is the first app I open, along with Google Chrome, every time I boot my computer. I have been a music addict since I was a kid. I still remember the first time I came to a cassette store to buy Sheila on 7’s second album titled Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan. I bought it with my mom. It was the best selling album at that time (2002). I was about 13 years old that day.

Sheila on 7 is one of my favorite bands from Indonesia. I used to have 5 of their albums before they are gone when I left for college. Today, Sheila on 7 has become an indie band after about 8 albums with Sony Music.

Of course, Sheila on 7 is not the only band whose I listen the music to. There are lots of bands and solo singers whose I Iisten to the music to as well. During the period of elementary school to middle school, I also listened to bands like Jamrud, Caffeine, Base Jam, Tipe-X, Linkin Park to Coldplay. These bands have one thing in common. They used to ensconce under the major label. At that time, indie music was not as popular as these days yet. There were only two indie bands I knew: Float and Pure Saturday.

Time goes by. My taste of music transformed. Or changed. Or extended. I have no idea how to call it. What I want to say is that I am now listening to indie music more often. More specifically folk music. Today, I am listening to indie musicians and bands like Adhitia Sofyan, Fiersa Besari, Fourtwnty, Payung Teduh and so on. I am still listening to Sheila on 7’s songs and other bands of my childhood. But, the frequency is not as frequent as before when I was still a kid.

Listening to indie music is more than enjoying a form of entertainment for me. Indie musicians have taught lots of things. They have idealism. Something that I also have one (I am pretty sure about this).

I am amazed by how indie musicians are trying to be successful or survive without sacrificing their idealism. They really live with their passion instead of following the market demand or just what’s trending.

I — in a sense — also apply the same idealism. As a blogger, I only write what I know instead of forcing myself to write what’s trending or what the market is demanding. As a photography hobbyist who lives in the Instagram era, I only share what I want to share. I don’t fucking care if someone doesn’t like what I post. When posting a photo to Instagram, I even never used any hashtag.

I really don’t care if I only have very little followers on social media because it is not what I am looking for. I work to earn money, not followers. And so far, with very little followers, I have been able to survive as a blogger. In the end, I believe that what I am doing should be able to give me a value in order to make me a better person.

Another value I learned from indie musicians is how they can survive in the music industry without backed by a major recording label. An indie musician has to do everything her/himself. From recording, promoting and distributing. Hard work and persistence are prerequisites if you want to survive as an indie musician. Those things also apply to you and me, whatever the field you are struggling in.

How Push Notifications Can Mess Up Your Life

I just read an article on Wired. It’s long article. The point is, the writer tells us to disable push notifications on our smartphone, without exception. Even text message and phone call. There are two main reasons. First, push notifications are not really good for your personal life as a human. Second, push notifications are basically just a tool for businesses to market their products.

As a blogger – who market my blog’s content – I really understand how push notifications can benefit online businesses. But as a user – and a normal person who expect a normal life – I also understand that enabling too many notifications is not good enough. Especially when it comes to productivity.

Enabling too many notifications can make you less focused at work. Imagine if you are getting an article done and your phone suddenly beeps up and shows “Peter Parker just posted for the first time in a while”. Yes, your friend — Peter Parker — just posted a photo after a long hiatus, showcasing his holiday trip with his wife. After seeing the photo, your mind says “they look happy” and you eventually end up wasting your 15 minutes scrolling your friend’s Instagram feed and his wife’s.

After getting back to your work, another notification — coming from an online shop app on your smartphone — shows up, alerting you about this week’s best item. Again, after peeking at the notification, you finally end up wasting another 15 minutes scrolling your screen to look for other “cool products”, regardless of you need it or not.

If you have too many push notifications enabled on your smartphone, imagine how much time you can waste within a day just for checking something that even doesn’t give any benefit or value on your life.

I am not telling you that disabling push notifications can instantly boost your productivity or can make your life better. At least you have got rid of one the distractions that can ruin your work time in order to make you be more productive. To be honest, I also can’t live without push notifications. I still let WhatsApp let me know about new messages (except group messages).

Actually, it’s not your phone’s fault if you cannot be more productive at work (or any problem caused by your smartphone). It’s totally your fault. I think self-control plays a vital role in the smartphone era like today. You need to control yourself to not become a smartphone slave. Instead, you should use your smartphone very wisely to make it a smart tool to make your life easier. Like it is supposed to be.