Ketika berkunjung ke Semarang, saya selalu teringat kenangan kecil di tahun 2008. Selepas lulus SMA di tahun itu – sebelum mendaftar kuliah –, saya sempat ingin ikut teman bekerja di kota ini. Tahun itu adalah pertama kalinya saya berkunjung ke kota Semarang, seorang diri. Seingat saya, bus jurusan Solo-Semarang masih lewat sekitaran Tugu Muda karna teman meminta saya untuk turun di Tugu Muda sebelum ia menjemput dengan sepeda motor tuanya menuju tempat ia tinggal, yakni sebuah kontrakan di pinggiran rel kereta api. Teman saya tinggal di kontrakan ini bersama 3 orang temannya. Kondisi kontrakan ini sangat sederhana. Saya masih ingat betul, ada satu hari dimana hujan turun cukup deras ketika saya menumpang di kontrakan ini. Air menetes di beberapa titik kontrakan akibat genteng yang bocor. Singkatnya, saya akhirnya memutuskan untuk tidak ikut kerja dengan teman saya itu. Setelah 4 atau 5 hari, saya memutuskan untuk pamit pulang lalu mendaftar kuliah.

Hanya itu satu-satunya kenangan saya tentang Semarang. Secara teknis, sebenarnya saya cukup sering ke Semarang karna ibu saya berasal dari Semarang (kabupaten, bukan kota). Tapi, karna kampung ibu saya lebih dekat dengan kota Salatiga, saya lebih sering menyebut “ke Salatiga” alih-alih “ke Semarang” ketika ditanya orang.

Kota Lama, 14 Agustus 2019

Sekitar jam 2 siang, Trans Semarang yang saya tumpangi sampai di kawasan Kota Lama, menurunkan saya di sebuah halte tak jauh dari Gereja Blendug. Siang itu Semarang panasnya bukan main. Saya buru-buru mencari warung untuk mencari minuman dingin. Rupanya, beberapa puluh meter dari Gereja Blendug ada sebuah mini market, yang sekaligus menjadi satu-satunya mini market di kawasan Kota Lama. Setelah cukup membasahi tenggorokan, saya segera beranjak menuju Achterhuis, tempat saya akan menginap. Teman saya menyarankan saya untuk menginap di Achterhuis karna lokasinya yang berada di kawasan Kota Lama sehingga saya bisa menghemat biaya transportasi. Saya cukup berjalan kaki jika ingin menuju Gereja Blendug atau tempat-tempat lain di kawasan Kota Lama. Tak perlu order ojol.

Suasana sore di sekitar Gereja Blendug

Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Kota Lama. Saya sempat kebingungan mencari lokasi Achterhuis meskipun sudah membaca peta di Google Maps. Saya bahkan hampir nyasar ke Stasiun Tawang sebelumnya akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada salah satu penduduk lokal. Rupanya, Achterhuis tidak cukup dikenal oleh warga lokal. Entah saya yang salah tanya orang atau memang namanya yang cukup asing sehingga tidak mudah diingat oleh warga lokal. Saya berhasil menemukan lokasi Achterhuis berkat bantuan dari seorang pemuda (bukan warga lokal) yang kebetulan saya temui. Si pemuda yang katanya cukup sering ke kawasan Kota Lama mengantar saya mencari lokasi Achterhuis dengan sepeda motor bebek tua tipe Astrea Prima (Honda). Alhamdulilah, orang baik ada dimana-mana.

Jam tiga sore lebih sedikit. Jo – teman yang akan menemani saya berkeliling Kota Lama sore itu – mengabari via WhatsApp bahwa dia sudah tiba di taman depan Gereja Blendug. Selepas asar, saya langsung menyusul dia di taman. Sore itu, Jo pulang kerja lebih awal sehingga bisa menemani saya jalan-jalan mengelilingi Kota Lama. Lagi pula, saya memang butuh seorang pemdandu. Si Jo (nama lengkapnya adalah Johanes Anggoro) rupanya cukup menguasai area Kota Lama. Beberapa kali ia menjelaskan tentang Kota Lama, termasuk kenapa kota ini sempat ditinggalkan. Jo juga menjelaskan bahwa dulu di kawasan Kota Lama ada sebuah pelabuhan. Jejak pelabuhan itu ditandai dengan sebuah menara yang bisa kita lihat dari pinggiran sungai di bagian barat kawasan Kota Lama.

Sepeda hias untuk berfoto. Bayar seikhlasnya

Jo mengajak saya menyusuri gang-gang di Kota Lama. Beberapa tembok di gang-gang yang kami lewati masih terlihat asli, tua termakan waktu. Pun dengan pintu-pintu dan jendela. Banyak yang sudah kusam dan berjamur. Kesan vintage benar-benar terasa ketika menyusuri gang-gang di kawasan Kota Lama. Menurut kabar yang saya dengar, kawasan Kota Lama sedang berada di radar UNESCO untuk dijadikan salah satu situs warisan dunia.

Pada jaman kolonial Belanda dulu, Kota Lama merupakan pusat ekonomi di Semarang. Di kawasan ini masih berdiri dengan kokoh pabrik rokok Praoe Lajar yang sampai kini masih aktif beroperasi. Di beberapa gedung juga masih tersemat atribut-atribut perusahan yang dulu pernah menggunakan mereka sebagai kantor operasional. Sebagian besar memiliki nama beraroma Belanda yang cukup sulit untuk dibaca, apalagi diingat.

Anak-anak bermain di depan sebuah keda kopi

Selain bangunan-bangunan tua, kedai kopi merupakan hal lain yang banyak ditemui di kawasan Kota Lama. Keda-kedai kopi ini – juga tempat bisnis lain – memanfaatkan bangunan-bangunan tua yang sudah tidak dipergunakan. Guest host tempat saya menginap sendiri juga memiliki kedai kopi. Filosofi Kopi — brand kopi yang popular lewat filmnya itu – juga punya kedai di Kota Lama. Lokasinya hanya beberapa puluh meter saja dari Achteruis.

Tujuan utama saya ke Kota Lama hari itu sebenarnya adalah untuk memotret Gerega Blendug. Saya ingin memotret gereja yang menjadi landmark utama Kota Lama ini dengan menambahkan foregound berupa kilatan lampu-lampu kendaraan dalam mode long exposure. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Rupanya, lampu-lampu trotoar di kawasan Kota Lama ini memiliki cahaya putih yang cukup terang, membuat bagian bawah terlihat terlalu terang jika saya mengatur shutter speed kamera diatas satu detik. Mungkin akan membantu jika saya membawa filter GND. Sayangnya, saya tak membawa filter ini dan memang belum punya. Tak mengapa, mungkin ini adalah ini petunjuk dari semesta bahwa saya harus ke Kota Lama lagi di lain waktu.

Foto yang gagal

Meskipun tidak berhasil mendapatkan gambar Gerega Blendug sesuai dengan yang saya rencanakan di awal, saya tak terlalu kecewa. Romantisme sore ala senja-kopi serta suasana tempo doeloe yang diberikan oleh Kota Lama cukup membuat saya bahagia. Jika diajak ke sini lagi – jika semuanya memungkinkan – tentu saya tak akan pikir dua kali untuk mengiyakan.