Kebenaran itu relatif

Sampai sekarang saya masih belum percaya seratus persen kalau kebenaran itu sifatnya mutlak. Nyatanya setiap individu punya definisi dan penafsiran yang berbeda-beda tentang kebenaran. Pernah ketika saya lagi ngobrol santai di wedangan sama temen. Kami menyinggung tentang penggunaan perangkat lunak ilegal yang telah menjadi budaya di masyarakat kita. Kebetulan temen saya ini salah satu dari pengguna perangkat lunak ilegal. Ketika saya bilang bahwa menggunakan perangkat lunak ilegal merupakan tindakan yang tidak benar dan melanggar hukum dia bilang bahwa banyak orang yang memakai perangkat lunak ilegal di Indonesia dan semuanya menggunakannya untuk tujuan baik. Belajar dan mencari uang. Dia memang sadar bahwa menggunakan perangkat lunak itu adalah tindakan yg salah. Namun disisi lain dia membenarkan dengan alasan bahwa mereka menggunakan itu untuk tujuan baik. Contoh lain seorang pencuri yang kepergok mencuri motor misalnya. Bisa saja dia membela diri dengan berkata “Saya mencuri karena terpaksa, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga”. Lagi-lagi tindakan yang salah custom promotional products ini menjadi benar di mata pencuri. Jadi memang kenyatan menunjukkan bahwa kebenaran itu adalah sebuah relatifitas. Tak pasti. Ternyata idealime lebih penting dari hukum maupun agama