5 cm. Yang Kedua

Aug 2, 2020

Tahun 2009 atau 2010 adalah tahun dimana saya pertama kali membaca novel 5 cm. Saya tak sengaja menemukan novel bersampul hitam itu ketika sedang main di kamar kos seorang teman. Saya membacanya ketika sedang menunggu giliran untuk main PES. Singkatnya, novel itu akhirnya saya pinjam untuk saya selesaikan membacanya.

Sepuluh tahun berlalu sejak pertama kali saya membaca 5 cm. Hari ini, 2 Agustus 2020, saya baru saja selesai membaca sekuel dari novel itu. Yang diberi judul 5 cm: Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang.

Inti dari sekuel ini masih sama dengan prekuelnya. Bahkan secara cerita, kerangkanya bisa dikatakan sama persis dimana 6 anak muda melakukan perjalanan ketika sedang mentok dengan kehidupan masing-masing. Perjalanan yang pada akhirnya mengungkap dan mengubah banyak hal tentang mereka. Perjalanan yang menyatukan mereka kembali sebagai sahabat sejak SMA.

Mas Donny Dirgantoro masih menyisipkan kutipan-kutipan serta penggalan lirik-lirik lagu di beberapa bab, walau porsinya saaaangat jauh berkurang.

Saya terutama sangat menyukai bab awal sekuel 5 cm karna sangat mewakili keresahan saya sebagai manusia biasa yang sedang memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Sebuah kebahagiaan hakiki, kebahagian pribadi sebagai seorang individu. Kebahagiaan yang mana parameternya saya sendiri yang menentukan, bukan society. Memang seharusnya demikian. Bahwa kita hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Kehidupan kita, ya kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Segala keputusan yang kita ambil dalam kehidupan tidak seharusnya didasarkan pada stereotype masyarakat. Bukan sekedar agar terlihat seperti orang-orang. Kita memutuskan ketika kita harus memutuskan.

Dialog-dialog ringan antara kelima tokoh utama masih menjadi hal yang banyak disuguhkan di sekuel ini. Dialog-dialog yang pada titik tertentu membuat saya tersenyum, terharu, tertawa terbahak, terenyuh, hingga membatin “iya juga ya”, “bener nih”, “memang seharusnya begitu”.

Mereka yang sudah membaca edisi pertama 5 cm pasti sudah tahu sekuel ini akan berakhir seperti apa. Saya pun demikian. Bahkan ketika pertama kali tahu bahwa 5 cm akan dibuatkan sekual, saya membatin “loh, itu kan ceritanya sudah tamat. Bukan bersambung. Kok mau dibuatkan sekuel?”

Sebagai pembaca edisi pertamanya, saya memang sudah bisa menebak akhir dari sekuel ini dan tebakan saya memang tidak meleset. Tapi proses menuju akhir cerita adalah sesuatu yang sangat-sangat saya nikmati. Sebagaimana edisi pertama novel, sekuel ini juga memberikan begitu banyak pelajaran serta sudut pandang tentang kehidupan. Seperti yang saya singgung tadi. Bab awal sekuel ini banyak menyinggung orang-orang yang hidup hanya berdasarkan standar masyarakat, alih-alih standar sendiri. Tingkah laku dan perbuatannya didasarkan pada kehidupan masyarakat di era internet secara umum dan era social media secara khusus. Kehidupan jaman sekarang.

Dalam sebuah monolog, Zafran (salah satu tokoh utama) bertanya pada dirinya sendiri:

“Terus, ada nggak? Sesuatu yang benar-benar kamu suka, benar-benar kamu cintai dalam hidup? Sekali lagi – sesuatu yang benar-benar kamu suka, bukan karna orang-orang di sekitarmu suka.”

Kalau kita coba kaitkan pertanyaan di atas dengan realita kehidupan berbasis social media sekarang, sepertinya tak terhitung berapa banyak orang yang melakukan sesuatu cuma karna sedang trend. Mereka melakukan walau mereka tahu mereka tak yang suka melakukannya. Itu belum sesuatu yang lebih krusial seperti memilih pekerjaan, keputusan menikah, atau hal-hal krusial lain dalam hidup yang seharusnya dilakukan kalau kita benar-benar sudah ingin atau siap melakukan. Yah, manusia memang makhluk social yang hidup bermasyarakat. Sudah tentu apa yang terjadi di masyarakat sedikit banyak akan mempengaruhi kita sebagai individu.

Individu?

Iya. Jangan lupa juga bahwa manusia adalah makhluk invididu. Makhluk individu yang bisa menentukan pilihannya sendiri – dengan pertimbangan orang lain. Tapi keputusan akhir tetap ada di kita sebagai individu. Bukankan Tuhan memberi kita akal untuk berpikir? Lalu kalau kita hanya mengikuti kata orang, mengikuti sandar orang, apa gunanya akal yang telah Tuhan berikan?

Sekali lagi, sekul 5 cm memberikan pelajaran bagaimana seharusnya impian itu dijaga dan diperjuangkan. Tidak seharusnya kita mudah menyerah pada apa yang telah kita impikan. Impian adalah keputusan dan keputusan adalah tanggung jawab. Betapa pengecutnya jika kita lari dari tanggung jawab!

Saya secara pribadi merupakan penggemar novel-novel karya mas Donny Dirgantoro. Selain 5 cm dan sekuelnya yang baru saja saya selesai baca, saya juga membaca novel keduanya yang berjudul 2. Ngomong-ngomong, di sekuel 5 cm ini ada beberapa kutipan dari novel 2.

Alasan kenapa saya suka sama novel-novel mas Donny karna 1), semuanya bercerita tentang impian. Saya suka dengan cerita-cerita (baik novel maupun film) yang menceritakan tentang impian atau perjalanan hidup karna saya bisa belajar banyak darinya. 2), karna ceritanya — terutama 5 cm dan sekuelnya — cukup relate dengan kehidupan saya sebagai seseorang yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya. 3), dialog-dialog yang membuat saya kadang ingin sekali menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang sedang berdialog. Dialog dengan bahasa yang ringan — bahasa sehari-hari, tapi kadang filosofis, ngehe, sok tahu. Ya sama seperti kalau kita ngobrol sehari-hari.

Sebagaimana dulu ketika pertama kali menyelesaikan membaca 5 cm, hari ini — tepat setelah membaca ucapan terima kasih dari sang penulis — saya sejenak merenung. Bukan hanya merenung tentang cerita dalam novel tapi juga renungan betapa cepat sekali waktu berlalu. Tak terasa, sudah 10 tahun berlalu sejak saya menyelesaikan membaca novel itu. 10 tahun! Waktu yang tidak sebentar. Lalu saya lihat sekitar rumah. Ada banyak hal yang rupanya juga telah berubah. Dinding, lantai, sofa raung tamu, halaman rumah, adik yang tiba-tiba sudah remaja. Dan tiba-tiba kini sudah di bulan Agustus. 2020 sudah berjalan lebih dari separuh sementara target masiiiiiih sangat jauh.

Tapi sebagaimana novel yang baru saja saya selesaikan. Kita tidak seharusnya mudah menyerah. Tidak seharusnya.

Kita cuma perlu lebih banyak bertindak karna tindakan adalah do’a yang tak tarucap. Actions are unsaid prayers.

Semoga kita semua bisa segera memenuhi impian yang telah kita tetapkan. Memenuhi tanggung jawab yang telah kita pilih tentukan. Semoga. Amiin.